Hari ini tuh, persis banget sperti apa yang kubayangkan. Duduk di depan kompi, dibalik jendela, dengan tetesan rintik hujan yang hampir deras…Indah, sepi, sunyi.
suasana ini bisa menyejukkan hati yg dirundung kecewa, dirundung marah dan kepedihan. Sulit untuk diceritakan dan diungkapkan. tapi ini selalu mendesak, menyesak dan ingin mendobrak….
Telah beberapa waktu silam, saat ambisi dan keadaan memaksa untuk memilih. 1997, tahun ke dua dikampus…tiba2 ga bisa jalan, lumpuh, sesak. Keinginan, ambisi dan mimpi bertarung dengan keadaan. Menjadi aktifis di kampus harus disingkirkan, mulai memikirkan keadaan rumah yang mulai tak terkendali. Menyelesaikan tugas2 sendiri, membantu adik2 membereskan PR2nya, tugas2, juga kegiatannya. Okelah, let’s compromise…tidak mungkin berada dalam kondisi terjepit seperti ini. tidak bisa diantara ambisi dan tuntutan. Mari pikirkan yang terpenting. Oke, ” Tuhan…sabarkanlah, berikanlah kekuatan agar bisa mengatasi sperti ini. Biarkan hamba menepi, biarkan mereka bisa bahagia, biarkan adik2 bisa menjadi orang, yg sukses dan berhasil.”
Sekarang, bertahun sudah apa yg kudoakan dan kunantikan TIBA. yg kedua, menjadi pegawai di perusahaan swasta, dgn kebebasan luar biasa, bagiku adalah kesuksesan. Yang ketiga, menjadi dokter…Impianku, harapanku, sejak saat aku menyisihkan ambisi dan keinginanku.
Bisikku kali ini, Tuhan…sudah usai kan ya, tugas saya. saya ingin fokus untuk diri sendiri dan kluargaku, di sisa waktu yang ada. Mereka sudah cukup dewasa.
Tapi…
It’s still worse as ever happen…