Feeds:
Posts
Comments

Hari ini tuh, persis banget sperti apa yang kubayangkan. Duduk di depan kompi, dibalik jendela, dengan tetesan rintik hujan yang hampir deras…Indah, sepi, sunyi.

suasana ini bisa menyejukkan hati yg dirundung kecewa, dirundung marah dan kepedihan. Sulit untuk diceritakan dan diungkapkan. tapi ini selalu mendesak, menyesak dan ingin mendobrak….

Telah beberapa waktu silam, saat ambisi dan keadaan memaksa untuk memilih. 1997, tahun ke dua dikampus…tiba2 ga bisa jalan, lumpuh, sesak. Keinginan, ambisi dan mimpi bertarung dengan keadaan. Menjadi aktifis di kampus harus disingkirkan, mulai memikirkan keadaan rumah yang mulai tak terkendali. Menyelesaikan tugas2 sendiri, membantu adik2 membereskan PR2nya, tugas2, juga kegiatannya. Okelah, let’s compromise…tidak mungkin berada dalam kondisi terjepit seperti ini. tidak bisa diantara ambisi dan tuntutan. Mari pikirkan yang terpenting. Oke, ” Tuhan…sabarkanlah, berikanlah kekuatan agar bisa mengatasi sperti ini. Biarkan hamba menepi, biarkan mereka bisa bahagia, biarkan adik2 bisa menjadi orang, yg sukses dan berhasil.”

Sekarang, bertahun sudah apa yg kudoakan dan kunantikan TIBA. yg kedua, menjadi pegawai di perusahaan swasta, dgn kebebasan luar biasa, bagiku adalah kesuksesan. Yang ketiga, menjadi dokter…Impianku, harapanku, sejak saat aku menyisihkan ambisi dan keinginanku.

Bisikku kali ini, Tuhan…sudah usai kan ya, tugas saya. saya ingin fokus untuk diri sendiri dan kluargaku, di sisa waktu yang ada. Mereka sudah cukup dewasa.

Tapi…

It’s still worse as ever happen…

 

Wew..Bukan waktu yang singkat, merintis usaha ini. Usaha yg lahir dari suara hati. Dari teriakan, pemberontakan, kesadaran dan Pencarian Jati Diri. Berawal dari kegalauan sangat…di usia 25tahun. Upps…terlambat yah? Tepatnya setelah saya menikah. Tiba2, suddenly, abruptly sy terbangun di pagi hari, mempertanyakan Gue ini Siapa? Gue ini apa? terus gw ngapain?…sy yakin ini mkn terlambat. Karena hidup sy menggelinding mengikuti alam saja. Meski juga karena ‘alam’ lain yg mempengaruhi. Hah? ooo..Bukan! Di Usia saya yang cukup imut, sudah harus membantu orang tua mengurus rumah tangga. Menjaga, memperhatikan dan berbagi dengan adik2 yg saya cintai sepenuh hati.

Yah, mungkin dimulai sejak SMP…saya bukannya korban bullying tp sedikit merasa tersisihkan dari teman2, krn tubuh saya yg tidak biasa. Bongsor jg enggak. Sedikit berisi, tp memang diatas rata2 teman sekolah yg langsing2. Yea, saya cukup puas menjadi orang biasa banget di sekolah, biasa minder gitu :D . Padahal juga aktif di OSIS, walau sebentar…tp itu ga cukup meninggikan PeDe. Parah yah…jangan ditiru.

Kemudian, SMA…eng ing eng…teteplah, menyandang kaum terpinggirkan, (Ga) Gaul Abis!!! naik sepeda, uang jajan pas2an (dari mana lebih Coy…)–saya ga nyalahin kalau Bokap PNS. Tapi sempetlah diajak teman ke diskotik, meski siang hari bolong kesananya..hehehe (thanks Lisa n Santi udah ngajakin…muah). argh…kadang kesel juga sih, gw ga bisa nemu orang yg cocok buat curhat. Ga ada teman sejati gitu berasanya. CUma ada 1 org, agak ‘nerd’–saya kasih kutip, orgnya ga segitunya sih, itu cuma anggapan teman aja. Dia lebih normal dari saya, di SMP dulu udah gonta ganti pacar. SMA, eh…dia dapat pacar duluan..Bayangin doonggg…gmn sepinyaaaa hidup gw. Kalau boleh protes, muka gue ga mengecewakan amat kok, tp kok ya gak laku2. Meski pada akhirnya ada yg Mau…meski cm bentarr banget.Karena gw ga suka terikat ternyata. Apa? eh…belum kesebut ya, teman yg ‘nerd’ tadi, namanya Pipit. Arghhh…kadang bikin kesalnya lbh banyak daripada senengnya. GImana ga, dia bagi senangnya sama pacarnya, lha giliran curhatnya ke gue. Semakin merana gundah gulana kacau galau dehhh rasanya. Masa2 SMA ingin cepat aja dilalui, karena gw merasa hampa, sepi tak bertepi…ga bebas keluar rumah, ga gaul, les sana sini…itu aja bikin saya ga pinter banget. Kenapa ya? yaa…mungkin karena saya ga pinter. Ga pinter mengatur waktu, terlebih mengatur perasaan. Disaat yang lain dugem saya di rumah aja, nonton tivi, nemeni adik2, sama kluarga. DIsaat yang lain pada ngrumpi, jalan2 di Mal..saya harus repot masak untuk adik2. Ngg…di SMA ini perasaan saya datar aja. Kalau ada yang bilang pengen balik kek SMA aja..maaf yaa…gw ga pengen banget, hahaha….

 

Masa Kuliah…

Uhmm….makin makin sibuk dong saya. Ga lagi jualan Avon kosmetik lagi atau jajanan permen coklat di sekolah adik. Tapi ya sibuk kuliah…hehehe…sambilnya yang banyak :p.. Sambil anter jemput adik2. Anter Nyokap kesana kemari. Agak gaul sih di kuliah ini…maksudnya bisa nongkrong sama teman2. Gaaaa ada capek2nya. aktif juga di HIMA…wew…thanks for such great moments. Walaupun ga lama juga saya menikmatinya. Pelan2 harus mengundurkan diri. Seiring dengan kesibukan orang tua. Tanggung jawab lebih besar lagi pada adik2 saya. Yaa…saya relaaa..demi Negara dan bangsa ini. My father has an important duty n responsibility.Saya ga mungkin memikirkan diri saya sendiri, ga tega melihat adik2 yang stiap saat ditinggal pergi. Ke Luar kota bahkan ke Luar Negeri. Saya sudah tidak sempat memikirkan masa depan, mau jadi apa, mau apa nantinya…kok ga kepikir yah. Yang penting adik2…it is heard so Naive kan ya? but it is true. Hal yang PALING menurut saya HEBAT adalah…saat saya sendiri, harus pontang panting pindah rumah ke Rumah Dinas SEMENTARA…Karena sebelumnya rumah kami satu2nya, ambrol, bocor ga keruan…banjir sebawah lutut. Saat itu orang tua sedang ada tugas ke Luar Negeri. Yang paling menyiksa adalah adik2 saya tidak punya sense responsibility terhadap diri mereka. Yah, mungkin karena usia mereka dan saya adalah kakak tertua dari 3 bersaudara. Walaupun pada akhirnya juga banyak yang membantu, para staf keluarga dan lain2. Buat saya ini adalah pengalaman luar biasa… seluar biasa mereka yang tidak pernah menganggap ini sesuatu banget untuk saya. Lain-lain standar, saya harus bikin surat ijin untuk adik yang sakit, mengambil rapot, mengantar balet….Ga tahu juga ya, adik2 saya ini enjoy aja menikmati hari-harinya…

Yap…Kenapa saya bisa telaten dan sabar mengantar, menemani tidur, dengan begitu telatennya? Karena Eyang…baru saya ingat juga, kenapa saya jd org rumahan, ya tentu krn sdikit paksaan sih, kenapa saya suka masak? kenapa saya suka menjahit? berbakat menjahit, menyulam, merawat…yah, karena bgitulah dulu saya diperlakukan eyang saya. Hampir setiap hari hingga saat ini di usianya yang ke 84 th, beliau masih rajin memasak. Dulu, saya ingat…hampir setiap hari saya melihat beliau menjahit baju untuk dirinya sendiri atau membuatkan saya daster atau baju main. Sampai saya ingat, waktu kecil dulu saking pengennya bisa jahit, dibohongi sama Om dikasi jarum pentul yang dikasi benang. Mana mu’in bisa dipakai njahit, lha wong ada pentolnya. Meski itu kurang baik utk mengobati rasa penasaran saya, itu karena dia sayang, kwatir kalo jarum itu menusuk dan terus ikut pembuluh darah (dalem kan ya mikirnya do’i).

Menjahit, memasak…keibuan banget ya kan saya. Hehehe…itu akhirnya si Kang Mas memilih saya. Bukan karena saya skolah sastra Inggris di Unair, bukan saya aktivis di kampus..ehhh lahhh…karena saya bisa masak. Hmm…padahal saya juga bisa kerja loh, dulu. Mengajar les waktu masih kuliah. Lumayanlah nambah uang saku…

Lha Mestinya, saya biasa dong ngajar? Enggg….long story to tell. Makin kesininya, saya kurang suka. Bukan ga mau berbagi ilmu. Bukan….Karena saya merasakan quantity dan quality time yang luar biasa dengan keluarga kecil saya. Saya mulai leluasa dengan bisnis kecil saya, yang sudah saya rintis sejak kuliah dulu. Saya menyadari, keputusan ini sangat sulit diterima kaum-kaum terpelajar yang pandai-pandai dan terhormat. Namun alam sepertinya berkehendak lain. Mengecewakan orang tua mungkin sudah pasti.

Domestikasi sangat mempengaruhi alur dan jalan hidup saya selama ini. Sehingga saya merasa kesulitan jika harus berjauhan dengan suami, anak dan rumah. Saya ingin mengelolanya dengan penuh konsentrasi. Tidak mungkin saya, meninggalkan berhari2 utk bekerja utk orang lain. Mungkin ini pilihan yang harus saya buat, mendengarkan suara keinginan hati..menjadi diri sendiri seperti yang saya cari selama berpuluh tahun saya hidup. Perlahan tapi pasti, akan saya wujudkan impian saya.

Saya teringat, doktrin yang saya camkan untuk diri saya. Untuk memupus ambisi dan keinginan saya pribadi: “niatku yang penting adik2ku, semoga mereka menjadi orang yang sukses, biarkan saya ada utk mereka”

terdengar sangat naive dan mengada2. Tapi inilah yang selalu saya ingat, untuk memupus ambisi, keinginan, nafsu saya selama ini. Dan kini, adik2ku sudah menjadi Orang yang membanggakan buatku….yang Lelaki nomer 2, Kiki, sudah lulus sarjana Ekonomi UNAIR loh…sekarang sdh bekerja di salah satu perusahaan kontraktor tambang dan mkn menjajaki wirausaha (Go entrepreneur Bro!), yang bungsu, dulu slalu tidur sama saya, yang saya doktrin untuk berani…sekarang sudah lulus Dokter, UNAIR juga loh…hahahaha…ga sadar mereka satu alumni sama saya. Setelah adik2ku usai ni…sekarang saya mikir diri sendiri yaa…mikir ambisi dan nafsu saya yang selama ini terbelenggu. Maaf…adrenalin masa puber dulu itu, sudah saya banting sedemikian rupa. Sekarang saya bangkitkan lagi, untuk meraih MIMPIku ya…Parents, Jangan marah kalau saya tidak mendengarkan, tidak mengggubris bahkan melawan….saya sedang PUBER!!! :D

—masih ada kelanjutan dongeng ini, nanti lanjut ya…sudah hampir jam 3 pagi–

Kadang, anak itu tanyaaaa melulu sampai bosan ya Mom, njawabnya. Apalagi kalo lagi asyik sama rumpian di BBM…hehe…hyukk disimak nih ada artikel dari Bpk Dono Baswardono yang bisa membantu kita, supaya anak kita juga makin terarah n cerdas keceriwisannya…


MENYUBURKAN RASA INGIN TAHU ANAK-ANAK

by Dono Baswardono Parenting on Wednesday, October 6, 2010 at 9:17am

RASA INGIN TAHU

 

“Ingin tahu tentang dunia di sekitar kita adalah bagian penting dari proses belajar. Bila anak-anak berminat mengetahui bagaimana kerjanya sesuatu dan menanyakan mengapa sesuatu terjadi, itu berarti mereka mengembangkan kecakapan yang diperlukannya saat sekolah nanti.”

 

Rasa ingin tahu adalah bagian penting proses belajar; bahkan yang terpenting. Kemelitannya akan cara kerja suatu benda atau mengapa terjadi sesuatu akan menjadi pondasi bagi kemudahan belajarnya di sekolah nanti. Nah, bagaimana cara menyemaikan rasa ingin tahu di dalam pikiran anak-anak?

 

Mengapa Begini? Mengapa Begitu?

Sediakan waktu yang cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anak Anda, kapan pun pertanyaan itu muncul. Jangan sampai Anda malas menjawabnya, apalagi membentaknya dengan “Tanya-tanya terus saja. Sudah diam saja!” Bertahun-tahun kemudian Anda akan menyesalinya karena anak Anda menjadi orang yang tak peduli dan bahkan tidak berprestasi di sekolah.

Bila Anda tak tahu jawabannya, Anda bisa berkata, “Wah, pertanyaanmu bagus sekali. Tapi Bapak belum tahu jawabannya. Yuk kita cari bersama-sama ya.”

Kemudian Anda bisa memberi contoh perihal cara-cara kita menemukan jawaban mengenai pelbagai hal, seperti:

-       Mengunjungi perpustakaan, mencari buku-buku yang memuat informasi soal itu;

-       Menelpon atau bertamu ke seseorang yang mungkin tahu jawabannya;

-       Mencari jawabannya di ensiklopedia, kamus, atau Internet.

Ada kalanya pertanyaan-pertanyaan anak Anda menjadi beban dan melelahkan. Anda bisa menanggapinya dengan, “Bunda belum bisa menjawabnya sekarang. Nanti kalau Bunda sudah selesai mengetik, kita akan membicarakan hal itu ya.”

 

Apa yang Terjadi Kalau…

Dorong minat anak Anda pada ilmu pengetahuan dengan membantu anak-anak membuat prediksi dan mengujinya. Sebagai contoh:

-       Pada saat anak Anda mandi, minta dia menebak mainan mana yang akan tenggelam dan mana yang akan melayang. Kemudian buktikan.

-       Ketika tengah memasak, ajak anak Anda meramalkan apa yang akan terjadi kalau Anda mencampur bahan-bahan makanan, seperti: menambahkan air ke dalam tepung; mencampurkan bumbu-bumbu dengan tepung; mengocok telur; memasak makanan seperti telur, beras, atau pasta.

 

Apa Artinya?

Dorong pula anak Anda belajar perihal simbol-simbol. Anak-anak yang menunjukkan minat pada tulisan tercetak dan simbol-simbol, lebih mungkin bersemangat belajar membaca kalau sudah siap.

-       Sebutkan dan tunjukkan arti tanda-tanda yang kerap Anda lewati bersama anak-anak.

-       Minta anak Anda memberitahukan kapan lampu lalulintas berubah warna dan apa artinya. Misalnya, hijau berarti boleh jalan dan merah artinya harus berhenti.

-       Lihat bersama di buku-buku bergambar dan minta anak menceritakannya. Kemudian bacakan kata-katanya untuk melihat bagaimana ceritanya.

 

Bagaimana Cara Kerjanya?

Ajak anak Anda bermain “Bagaimana Cara Kerjanya ya?” ketika Anda tengah memperbaiki sesuatu. Biarkan anak Anda membantu hal-hal kecil, seperti:

-       mengatur kembali jam digital;

-       mengganti baterai di balik jam dinding;

-       mengganti baterai senter;

-       memperbaiki gerendel pintu. DB

 

Dr. Dono Baswardono, CHT, AISEC, MA, Ph.D

– psikolog, psikoanalis & grafolog. Anggota Asosiasi Grafolog Belanda.

Artikel ini saya dapat dari teman, yg di kirim melalui emai dan di bagi dengan saya. Semoga menjadikan inspirasi positif yag mendukung para orang tua membesarkan, mengasuh dan mendidik putra-putrinya.

Anak-anak yang digegas

Menjadi cepat mekar

Cepat matang

Cepat layu…

Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa.. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua … Captive market!

Kondisi di atas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di intenet dan lileratur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping ketidakpatutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidak tahuannya!

ANAK-ANAK YANG DIGEGAS…

Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadap anak. Diantaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan intelektual secara dini. Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib dengan kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik di dalam dan di luar sekolah.

Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya di bidang matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian? James Thurber seorang wartawan terkemuka. pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.

Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, di mana seorang Ibu yang bernama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif anaknya, sejak si anak masih berupa janin. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan menggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun, Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun, Edith telah menyelesaikan membaca ensiklopedi Britannica. Usia 9 tahun, ia membaca enam buah buku dan koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun, dia masuk universitas. Ketika usianya menginjak 15 tahun, ia menjadi guru matematika di Michigan State University. Aaron Stem  berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun kabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa.

Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil, mereka hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu. Seperti halnya Einstien yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka melamun.

Selama berpuluh-puluh tahun, orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kognitif. Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu, banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan “Early Childhood Training”. Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasannya. Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan kognitif yang mengfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10% saja. Ketidakseimbangan dalam memfungsikan ke dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal ini terjadi sekarang di mana-mana, di Indonesia.

“EARLY RIPE, EARLY ROT…!”

Gejala ketidakpatutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1990 di Amerika. Saat orangtua dan para professional merasakan pentingnya pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak segera mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak dini maka mereka akan kehilangan ”peluang emas” bagi anak-anak mereka selanjutnya. Mereka memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman Kanak-kanak (Pra Sekolah). Taman Kanak-kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang masih berusia di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya membelajarkan membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula.

Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika sudah dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah “Era Headstart” merancah dunia pendidikan. Para akademisi begitu optimis untuk membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa mereka (tiada berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa yang mereka butuhkan dan inginkan sebagai anak.

Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome Bruner, seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku terkenal “The Process of Education” pada tahun 1990. Ia menyatakan bahwa kompetensi anak untuk belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan yang mereformasi kurikulum pendidikan di Amerika . “We begin with the hypothesis that any subject can be taught effectively in some intellectually honest way to any child at any stage of development”.

Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang disalahartikan oleh banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat busuk. (early ripe, early rot!).

Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD. Di rumah, para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca.

Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep “kesiapan-readiness “ dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang “biological limititations on learning”. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini dan rangsangan inlelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun.

Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah membuat anak-anak menjadi cepat mekar. Anak -anak menjadi “miniature orang dewasa “. Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah sebagaimana layaknya orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang dewasa, berlaku pun juga seperti orang dewasa. Di sisi lain, media pun merangsang anak untuk cepat mekar terkait dengan musik, buku, film, televisi, dan internet. Lihatlah maraknya program teve yang belum pantas ditonton anak anak yang ditayangkan di pagi atau pun sore hari. Media begitu merangsang keingintahuan anak tentang dunia seputar orang dewasa sebagai seksual promosi yang menyesatkan. Pendek kata, media telah memekarkan bahasa, berpikir dan perilaku anak tumbuh kembang secara cepat.

Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak? Apakah faktor emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan seperti halnya kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu dan ritmenya sendiri yang tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja anak terlihat berpenampilan sebagai layaknya orang dewasa, tetapi perasaan mereka tidak seperti orang dewasa. Anak-anak memang terlihat tumbuh cepat di berbagai hal tetapi tidak di semua hal. Tumbuh mekarnya emosi sangat berbeda dengan tumbuh mekarnya kecerdasan (intelektual) anak. Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan sukar, terkait dengan berbagai keadaan, cobalah perhatikan, khususnya saat perilaku anak menampilkan gaya “kedewasaan “, sementara perasaannya menangis berteriak sebagai “anak”.

Seperti sebuah lagu popular yang pernah dinyanyikan suara emas seorang anak laki-laki “Heintje” di era tahun 70-an: I’m Nobody’S Child.

I’M NOBODY’S CHILD

I’m nobody’s child

I’m nobody’s child

Just like a flower

I’m growing wild

No mommies kisses and no daddy’s smile

Nobody’s louch me I’m nobody’s child.

DAMPAK BERIKUTNYA TERJADI KETIKA ANAK MEMASUKI USIA REMAJA

Akibat negatif lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia memasuki usia remaja. Mereka tidak segan segan mempertontonkan berbagai macam perilaku yang tidak patut. Patricia O’Brien menamakannya sebagai “The Shrinking of Childhood”. “Lu belum tahu ya… bahwa gue telah melakukan segalanya”, begitu pengakuan seorang remaja pria berusia 12 tahun kepada teman-temannya. “Gue tahu apa itu minuman keras, drug, dan seks”, serunya bangga.

Berbagai kasus yang terjadi pada anak-anak karbitan memperlihatkan bagaimana pengaruh tekanan dini pada anak akan menyebabkan berbagai gangguan kepribadian dan emosi pada anak. Oleh karena ketika semua menjadi cepat mekar, kebutuhan emosi dan sosial anak jadi tak dipedulikan! Sementara anak sendiri membutuhkan waktu untuk tumbuh, untuk belajar dan untuk berkembang, sebuah proses dalam kehidupannya!

Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke atas yang berkarier di luar rumah tidak memiliki waktu banyak dengan anak-anak mereka. Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia lebih mengandalkan tenaga “baby sitter” sebagai pengasuh anak-anaknva. Colette Dowling menamakan ibu-ibu muda kelompok ini sebagai “Cinderella Syndrome” yang senang window shopping, ikut arisan, ke salon memanjakan diri, atau menonton telenovela atau buku romantis. Sebagai bentuk ilusi menghindari kehidupan nyata yang mereka jalani.

Kelompok ini akan sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di lembaga pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut berbagai les, dan mengikuti berbagai arena, seperti lomba penyanyi cilik, lomba model ini dan itu. Para orangtua ini juga sangat bangga jika anak-anak mereka superior di segala bidang, bukan hanya di sekolah. Sementara orangtua yang sibuk juga mewakilkan diri mereka kepada baby sitter terhadap pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka. Tidak jarang para baby sitter ini mengikuti pendidikan parenting di lembaga pendidikan eksekutif sebagai wakil dari orang tua.

ERA SUPERKIDS

Kecenderungan orangtua menjadikan anaknya “be special” daripada “be average or normal” sernakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin anak-anak mereka menjadi “to excel to be the best”. Sebetulnya tidak ada yang salah. Namun ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai mengikuti berbagai kepentingan orangtua untuk menyuruh anak mereka mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental aritmatik, sempoa, renang, basket, balet, tari ball, piano, biola, melukis, dan banyak lagi lainnya maka lahirlah anak-anak super “SUPERKIDS”. Cost (biaya) merawat anak superkids ini sangat mahal.

Era superkids berorientasi kepada “Competent Child”. Orangtua saling berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya “earlier is better”. Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam pengetahuan ke dalam diri anak mereka, maka itu akan semakin baik. Neil Posmant seorang sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka lihatlah ketika anak anak itu menjadi dewasa, maka ia akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan!

BERBAGAI GAYA ORANGTUA

Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan berbagai gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan “miseducation” terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind (1989) mengelompokkan berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara lain:

Gourmet Parents (Orang tua Borju)

Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan gaya hidup kebarat-baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka “superkids” merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai orangtua. Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknya baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam program-program eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai merek mobil terkenal, maka itulah sekolah  banyak kelompok orangtua “gourmet “ atau kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.

College Degree Parents (Orang tua Intelek)

Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri dalam barbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya membantu membuat majalah dinding dan kegiatan ekstra kurikular lainnya. Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka “Superkids”, apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak-anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.

Gold Medal Parents (Orang tua Mendali Emas)

Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke berbagai kompetisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia. Ada juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan menjadi “Seorang Bintang Sejati “. Sejak dini mereka persiapkan anak-anak mereka menjadi “Sang Juara”, mulai dari juara renang, menyanyi dan melukis hingga none abang cilik ketika anak-anak mereka masih berusia TK.

Sebagai ilustrasi,dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang, puluhan anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di mulainya lomba pakaian adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta. Anak-anak mulai resah, berkeringat, mata memerah karena keringat melelehi mascara anak kecil mereka. Para orangtua masih bersemangat, membujuk anak-anaknya bersabar. Mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan kelular sebagai pemenang. Sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas kertas.

Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok gold medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil pesenam usia TK rnengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus “bintang cilik” Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa kanak-kanaknya. Kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. Gold medal parent menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka!

Pada tanggal 29 Mei lalu kita saksikan di TV bagaimana bintang cilik “Joshua” yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya. Orangtua Joshua berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang bintang dengan kembali menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita tentu masih ingat bagaimana lucu dan pintarnya Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia muncul di TV sebagai anak ajaib karena dapat menghapal puluhan nama-nama kepala negara. kemudian di usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum bagaimana seorang bapak yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat membentuk dan menjadikan anaknya seorang “superkid” seorang penyanyi sekaligus seorang bintang film.

Do-it Yourself Parents (Orang tua Mandiri)

Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayanan professional di bidang sosial dan kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah, di Posyandu dan di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu, kelompok ini juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya “Superkids earlier is better”.

Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang, dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.

Outward Bound Parents (Orang tua Paranoid)

Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka lebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat tempat tawuran yang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep “Superkids”. Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya. Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya “Karate, Yudo, pencak Silat” sejak dini. Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar  rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak. Akibatnya anak-anak mereka menjadi “steril” dengan lingkungannya.

Prodigy Parents (Orang tua Instan)

Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, narnun tidak berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya.

Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu mereka sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang “Kiat-Kiat Mengajarkan bayi Membaca” karangan Glenn Doman , atau “Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Matematika” karangan Siegfried, “Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang” karangan Therese Engelmann, dan “Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat Membaca Dalam Waktu 9 Hari” karangan Sidney Ledson.

Encounter Group Parents (Orang tua Pengerumpi)

Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Terkadang mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya.

Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan ketidakpatutan dalam mendidik anak-anak dengan berbagai perilaku “gang ngrumpi” yang terkadang mengabaikan anak. Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka memiliki aktivitas di kelompokya lebih berorientasi kepada kepentingan kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka sebagai “Superkids” juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan.

Milk and Cookies Parents (Orang tua Ideal)

Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis.Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan.

Kelompok ini tidak berpeluang menjadi oraugtua yang melakukan “miseducation” dalam merawat dan mengasuh anak-anaknya. Mereka memberikan lingkungan yang nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua.

Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah. Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kehidupan belajar.

Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya. Dengan kata lain, mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan di dirinya. Bagi mereka, setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik!

Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih kuat, atau lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti daripada kenangan indah; terutama kenangan manis di masa kanak-kanak. Kamu mendengar banyak hal tentang pendidikan, namun beberapa hal yang indah, kenangan berharga yang tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu pendidikan yang terbaik. Apabila seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa kecilnya, maka kelak seluruh kehidupannya akan terselamatkan. Bahkan apabila hanya ada satu saja kenangan indah yang tersimpan dalam hati kita, maka itulah kenangan yang akan memberikan satu hari untuk keselamatan kita” (destoyevsky’ s brothers karamoz)

PERSPEKTIF SEKOLAH YANG MENGKARBIT ANAK

Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak didiknya juga terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk daripada proses pembelajaran. Sekolah terlihat sebagai sebuah “industri” dengan tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan anak. Ada program akselerasi, ada program kelas unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk. Tugas-tugas dalam bentuk hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai “Operator kurikulum” dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena rangkap tugas sebagai administrator sekolah. Sebagai guru kelas yang mengawasi dan mengajar terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat menjadi “pengabar isi buku pelajaran” ketimbang menjalankan fungsi edukatif dalam menfasilitasi pembelajaran. Di saat-saat tertentu, sekolah akan menggunakan “mesin-mesin dalam menskor” capaian prestasi yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa potongan-potongan mata  pelajaran. Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani pendidikan di sekolah. Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan atau melakukan tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai anak.

Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat bagan organisasi sebuah birokrasi? Manfaat apa yang dirasakan anak jika mereka diminta membuat PR yang menuliskan susunan kabinet yang ada di pemerintahan? Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh menghapal kalimat-kalimat yang ada di dalam buku pelajaran? Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa yang direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-perilaku keseharian mereka sebagai anak menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak tentang pengetahuan yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam kehidupan nyata. Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk sekolah? dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk.

Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah untuk menyongsong kehidupannya! Lihatlah, mereka semua belajar dengan cara yang sama. Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif. Paulo Freire mengatakan bahwa sekolah telah melakukan “pedagogy of the oppressed” terhadap anak-anak didiknya. Di mana guru mengajar, anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan mendesakkan pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah objek dari proses pembelajaran (Freire,1993) . Model pembelajaran banking system ini dikritik habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah. dan persaingan ranking wilayah.

MENGKOMPETENSI ANAK MERUPAKAN “KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN”

“Anak adalah anugrah Tuhan sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasa yang bertanggungjawab” (Nature versus Nurture)

Bagaimana?

Karena ada dua pengertian kompetensi. Kompetensi yang datang dari kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak sendiri.

Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson (psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi apapun sesuai kehendak kita; sebagai komponen sentral dari konsep kompetensi. Jika bayi-bayi mampu jadi pembelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran dini. Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut :

“Give me a dozen healthy infants, well formed and my own special world to bring them up in, and I’ll guarantee you to take any one at random and train him to become any type of specialist I might select — doctor, lawyer, artist, merchant chief and yes, even beggar and thief regardless of this talents, penchants, tendencies, vocations, and race of his ancestors ”

Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan “intervensi dini” setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada anak-anaknya. Ada sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut New Jersey pada tahun 1979. Dimana guru-guru melakukan serangkaian program tes untuk mengukur “Kecakapan Dasar Minimum (Minimum Basic Skill)” dalam mata pelajaran membaca dan matematika. Hasil dari pelaksanaan program ini dilaporkan kolomnis pendidikan Fred Hechinger kepada New York Times sebagai berikut : “The improvement in those areas were not the result of any magic program or any singular teaching strategy, they were…. simply proof that accountability is crucial and that, in the past five years, it has paid off in New Yersey”

Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti Eleanor Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang diilustrasikan sebagai anak-anak yang bodoh dan mengalami keterlambatan dalam akademik ketika mereka bersekolah di SD kelas rendah. Semestinya kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan dini sangat berbahaya jika dibuatkan kompetensi-kompeten si perolehan pengetahuan hanya secara kognitif.

Oleh karena hingga hari ini, sekolah belum mampu menjawab dan dapat menampilkan kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran. Pendidikan anak seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti emosi, sosial, kognitif fisik, dan moral belum dapat dikemas dalam pembelajaran di sekolah secara  t rintegrasi. Sementara pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk dibelajarkan. Bukan anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor saja!. Pendidikan sejati bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus menerus merawat minat dan keingintahuan untuk belajar. Anak mengenali tumbuh kembang yang terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya. Perilaku keingintahuan “curiosity” inilah yang banyak tercabut dalam sistem persekolahan kita.

AKADEMIK BUKANLAH KEBUTUHAN DARI SEBUAH PENDIDIKAN! “EMPTY SACKS WILL NEVER STAND UPRIGHT”(GEORGE ELIOT).

Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, pisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya. Membelajarkan secara serempak pikiran, hati dan pisik anak akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru sebagai pendidik akademik dan pendidik sanubari “karakter”. Di mana mereka mendidik anak menjadi “good and smart” terang hati dan pikiran.

Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan “how learn to learn” pada anak didik mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, dengan berpikir kritis, dan cakap memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi sebagai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan berbagai kreativitas.

Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya berjam-jam untuk belajar anatomi tubuh manusia. Thomas Edison mengatakan bahwa “genius is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration “.

Semangat belajar “encourage” tidak dapat muncul tiba-tiba di diri anak. Perlu proses yang melibatkan hati, kesukaan dan kecintaan belajar. Sementara di sekolah banyak anak patah hati karena gurunya yang tidak mencintai mereka sebagai anak. Selanjutnya misi sekolah lainnya yang paling fundamental adalah mengalirkan “moral litermy” melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus karakter inilah tujuan sejati sebuah pendidikan (Martin Luther King, Jr ). Inilah keharmonisan dari pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna dengan perbuatan yang baik.

PENUTUP

Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang terang hati dan terang pikiran “good and smart” merupakan tugas kita bersama. Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras yang mesti dilakukan secara serempak, antara sekolah dan masyarakat, khususnya antara guru dan orangtua. Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak berorientasi kepada kebutuhan anak sehingga tidak dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak. Atau pun jika ada yang terjadi adalah ketidakseimbangan yang cenderung memekarkan aspek kognitif dan mengabaikan faktor emosi.

Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini kepada anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi “SUPERKIDS”. Inilah fenomena yang sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari lahirnya era anak-anak karbitan! Lihatlah nanti ketika anak-anak karbitan itu menjadi dewasa, maka mereka akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan. []

*) Dewi Utama Faizah, bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi dari Indonesia Heritage Foundation.

Have a nice day

Mohamad Yunus

__._,_.___
Recent Activity: 

-> Para ALUMNI PRAKTISI NLP INDONESIA! Sekarang sudah bisa mengasah dan mempertajam NLP di event gathering bulanan “ANCHOR CHAIN”!
-> “BE HAPPY! GET WHAT YOU WANT!’ Buku NLP mudah dan praktis, karya Hingdranata Nikolay, sudah hadir di toko buku Gramedia!  Pelajari bagaimana menjadi bahagia dan mendapatkan yang Anda inginkan!
 

<style type=”text/css”>#yui-main { background-color:#D6DEEC }</style> WelcomeInboxNewFoldersMail Options

Hari ini Surabaya panasnya luar biasa…aku susuri jalanan padat penuh manusia di skitar pasar perkulakan ini. Begitu hidup, begitu nyata, disitu kulihat nafas dan geliat kehidupan yang sangat Luar Biasa. Aku jadi tidak merasa asing atau juga minder, aku merasa ada dalam nafas dan denyut kehidupan itu. Alhamdulillah ya Allah..Kau berikan nikmat luar biasa padaku untuk menyaksikannya.

Di rumah, si kecilku Lala yang kurindukan setiap saat, menyambutku dengan girang..aku pun bahagia mendengar suaranya yang ceria ketika dengar suara mobilku masuk garasi. Kulihat dia sedang nonton disney channel. Kutanya dengan santai,’sudah makan Lala?’ Lala jawab.’sudah Ma…’ Wuih…ribtnya pekerjaan yang kutekuni ini, tidak bisa melulu dan selalu menemaninya bermain, kecuali mengantarkan dan menungguinya Les-les.

Petang sudah beranjak, Lala mengajak kekamar, ruang istirahat sekaligus pusat kegiatan kami…:) Lala nonton tivi, Mama online -hari ini Rabu, Lala free…boleh bermain sepuasnya, hari lain penuh dengan Les-

Mama online apa? ngurusin dagangan dan melayani orang yang tanya-tanya, sembari sosialisasi dengan teman2 FB lainnya. Satu kali, ada komentar dari seorang Ibu, tentang kondisinya yang sama sekali gag malu malah bangga, meski dia sarjana Hukum tapi berdagang gorengan dgn gerobaknya, juga pakaian-pakaian. Aku buka link nama ibu itu di FB…Astaghfirullah, ada salah satu albumnya yang ia dedikasikan untuk putranya…:( :( ‘Putraku dalam Kenangan’ tulisnya…difoto2 itu ada foto putranya sedang dirawat di Rumah Sakit…:( usianya kurang lebih 1th yang akhirnya tiada karena sakit…

Mendadak, sontak, aku menangis..sedih, pilu, kelu…Ooh Tuhan, jika Kau berkehendak…apapun di dunia ini tidak ada artinya. Kau bisa meniadakan dan juga meng’ada’kan..Masihkah aku terus tidak puas? Masihkah aku terus bertanya-tanya dan memaksaMu untuk berkehendak? Tuhan apa yang Kau beri adalah cukup, amat cukup bagiku…Suami yang baik, penyabar, penyayang dan lebih dan lebih, anak yang lucu, cantik, pintar, yg lebih dan lebih lagi… yang mengisi kekosongan dan lolongan kesedihan…Kusyukuri ya Allah, karena sesungguhnya apa yang kau berikan hanya sementara…

‘semoga hamba termasuk orang2 yg beriman kepadaMu, amin’

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.